
My Kampung from a distance
Setiap hari, Andi Rabiah mengarungi lautan, dari satu pulau ke pulau lain. Siang dan bahkan malam. Jarak satu pulau ke pulau lain bisa mencapai 13 jam perjalanan. Ombak tinggi kadang menghantam perahunya yang sederhana. Namun, suster Puskesmas Pulau Sapuka, Pangkep, Sulawesi Selatan, itu tetap melaksanakan tugas mulia: mengobati orang-orang sakit diare.
Lebih 29 tahun, suster berjilbab berusia 49 tahun itu menjalani tugas yang mengancam jiwanya. Namun, justru untuk menyelamatkan jiwa pasiennya yang tersebar di 25 pulau di perbatasan antara Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar. Beberapa kali, dia mengalami kecelakaan.
Pernah suatu ketika, perahu Rabiah hancur dihantam ombak dan dia terdampar di karang selama tiga hari.
Ketika kemarin bangsa ini memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda, perjuangan Hj Rabiah–yang ditulis Republika tahun lalu–menjelaskan keikhlasan dalam melaksanakan kewajiban. Suster Apung itu berhari-hari di tengah laut yang bergelombang untuk menemui pasiennya yang kebanyakan orang miskin. Ibu empat anak itu mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya. Dia adalah seorang militan.
A Riawan Amin, Senin (27/10), meluncurkan tiga bukuSatanic Finance, The Celestial Management, danIndonesia Militan. Buku Indonesia Militan mengingatkan saya pada perjuangan Rabiah di tengah rakyat yang memilih pemimpin karena sejumlah uang; pemimpin yang menghabiskan puluhan miliar rupiah mengiklankan dirinya untuk meyakinkan rakyat bahwa dia berjuang demi orang miskin.
Dalam perenungan Riawan, bangsa ini memerlukan semangat militansi. Bung Karno dan Bung Hatta contoh dari militansi itu, mengobarkan api perjuangan bangsa. Bapak Bangsa itu mempertaruhkan jiwanya, menggerakkan rakyat untuk merebut kemerdekaan. Bung Hatta, yang dipenjara dan dibuang, bahkan berjanji tidak akan menikah sebelum cita-cita perjuangan mengantarkan Indonesia merdeka tercapai.
Read More…