Posted by: Furqon | October 29, 2008

Indonesia Militan

My Kampung from a distance

My Kampung from a distance

Setiap hari, Andi Rabiah mengarungi lautan, dari satu pulau ke pulau lain. Siang dan bahkan malam. Jarak satu pulau ke pulau lain bisa mencapai 13 jam perjalanan. Ombak tinggi kadang menghantam perahunya yang sederhana. Namun, suster Puskesmas Pulau Sapuka, Pangkep, Sulawesi Selatan, itu tetap melaksanakan tugas mulia: mengobati orang-orang sakit diare.

Lebih 29 tahun, suster berjilbab berusia 49 tahun itu menjalani tugas yang mengancam jiwanya. Namun, justru untuk menyelamatkan jiwa pasiennya yang tersebar di 25 pulau di perbatasan antara Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar. Beberapa kali, dia mengalami kecelakaan.

Pernah suatu ketika, perahu Rabiah hancur dihantam ombak dan dia terdampar di karang selama tiga hari.
Ketika kemarin bangsa ini memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda, perjuangan Hj Rabiah–yang ditulis Republika tahun lalu–menjelaskan keikhlasan dalam melaksanakan kewajiban. Suster Apung itu berhari-hari di tengah laut yang bergelombang untuk menemui pasiennya yang kebanyakan orang miskin. Ibu empat anak itu mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya. Dia adalah seorang militan.

A Riawan Amin, Senin (27/10), meluncurkan tiga bukuSatanic FinanceThe Celestial Management, danIndonesia Militan. Buku Indonesia Militan mengingatkan saya pada perjuangan Rabiah di tengah rakyat yang memilih pemimpin karena sejumlah uang; pemimpin yang menghabiskan puluhan miliar rupiah mengiklankan dirinya untuk meyakinkan rakyat bahwa dia berjuang demi orang miskin.

Dalam perenungan Riawan, bangsa ini memerlukan semangat militansi. Bung Karno dan Bung Hatta contoh dari militansi itu, mengobarkan api perjuangan bangsa. Bapak Bangsa itu mempertaruhkan jiwanya, menggerakkan rakyat untuk merebut kemerdekaan. Bung Hatta, yang dipenjara dan dibuang, bahkan berjanji tidak akan menikah sebelum cita-cita perjuangan mengantarkan Indonesia merdeka tercapai.

Persoalan bangsa ini, tulis dirut Bank Muamalat itu, bukan masalah fundamental ekonomi. Kinerja ekonomi cukup mengesankan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 5,2 persen. Utang pada IMF telah dilunasi. Cadangan devisa terus meningkat dari waktu ke waktu. Secara agregat, problem utama bukan finansial, melainkan mental. Mentalitas pecundang memerosokkan bangsa ini menjadi kuli di negeri sendiri.

Merajalelanya korupsi, tulis Riawan, bukan standar hidup tidak terpenuhi, tapi karena mentalitas rakus. Orang-orang lebih bangga meminta daripada memberi. Tayangan televisi alih-alih menguatkan mental rakyat, justru menyajikan kekonyolan dan mistisme. Mendorong konsumerisme daripada produktivitas. Menjejali impian-impian borjuis daripada realitas dan perjuangan.

Mentalitas yang lemah, menurut salah seorang Dewan Pakar ICMI ini, berbahaya bagi kesinambungan bangsa ini. Sejarah mengajarkan bahwa tidak pernah ada bangsa di dunia berhasil dan maju karena mentalitas lemah. Mentalitas bangsa ini harus kuat dan mandiri. Dan, ini harus menjadi agenda penting. Mahatma Gandhi pada 1930 memperlihatkan bagaimana kekuatan, militansi, dari seorang pemimpin yang terkesan berfisik lemah. Ketika penjajah Inggris memberlakukan pajak garam, Ghandi melakukan long march sejauh 240 mil mengajak rakyatnya membuat garam sendiri. Bapak India itu melakukan perlawanan dan ia berhasil.

Bangsa ini memerlukan tokoh-tokoh militan. Andi Rabiah telah melakukan itu dengan keikhlasan luar biasa. Dia tidak bekerja untuk sejumlah uang dan popularitas seperti banyak tokoh yang mengiklankan dirinya melainkan sebagai kewajiban dan ia bahagia melihat pasiennya melahirkan bayi dalam keadaan sehat. Militansi semestinya tidak hanya dilakukan Andi Rabiah, tapi juga oleh para pemimpin politik dan mereka yang diberi amanah.

dikutips dari:
ROL[29/10/08] - http://www.republika.co.id/koran/28.html
oleh: Asro Kamal Rokan


Leave a response

Your response:

Categories