
Menikmati perjalanan hidup seorang Christopher McCandless melalui film “Into the Wild” karya Sean Penn membuat saya jadi berfikir. “Mengapa seorang yang “biasa-biasa saja” bisa menginspirasi banyak orang (meski setelah kematiannya)?”, atau “Mengapa seseorang bisa menjadi pahlawan bagi banyak orang?”. Meski ia disebut oleh orang-orang sekitar tempat peristirahatan terakhirnya sebagai orang bodoh yang mati sia-sia menjemput ajalnya.
Penting untuk dicermati bahwa dalam “perjalanan menuju keliaran”nya, Alexander Supertramp –begitu ia namai dirinya– mencatatkan seluruh aktivitasnya selama 189 hari ke dalam jurnal berseri. Inilah yang membuat mengapa ia menjadi terkenal selain tentu saja abnormalitas kehidupannya yang layak untuk diangkat.
Berawal dari jurnal berserinya, penulis biografi Jon Krakauer menuliskan kisah perjalanan hidup McCandless ke dalam sebuah buku “Into the Wild“. Pergolakan pemikirannya membuat perjalanannya layak untuk disimak. Sama seperti tokoh-tokoh (atau pahlawan) lain yang dikenal karena meninggalkan kisah atau pelajaran yang bisa menginspirasi banyak orang. Peninggalan itu berupa surat-surat, catatan-catatan, buku, atau coretan dari seorang murid bersama gurunya.
Surat-surat ibu kita Kartini kepada sahabat-sahabatnya, mengilhami kaum feminis untuk mengangkat tema emansipasi wanita. Ceramah-ceramah serta rangkuman pemikiran Hasan Al-Banna menginspirasi banyak pemuda Mesir untuk melawan kedzaliman tirani diktator dan penjajahan. Tentu saja Nabi Muhammad SAW yang mewariskan kitab suci (yg diwahyukan melalui dirinya) serta seluruh aktivitas kehidupannya yang tidak henti-hentinya dikaji oleh umat Islam hingga hari ini.
Sejarah peradaban manusia dibedakan atas dasar dikenalnya tulisan. Era tulis menandai babak baru kehidupan umat manusia. Banyak kisah sejarah yang bisa kita identifikasi karena adanya catatan serta material pendukung lain yang membangun sebuah sejarah. Tanpa adanya kedua faktor tersebut, sejarah rawan untuk menjadi sebuah mitos atau legenda. Sebuah pemerintahan bisa memutar balikkan sejarah dengan menerbitkan catatan-catan atau buku-buku yang telah dimodifikasi sesuai keinginan.
Tulisan bisa bercerita melampaui masa seorang penulis itu sendiri. Sebuah pemikiran, catatan resep, banyolan warkop, bahkan untaian algoritma bisa membuat seseorang dikenang dan menginspirasi banyak orang setelahnya. Sekarang pertanyaanya, “Sudah siapkah kita membuat sejarah kita sendiri?”*
*ps: buatlah sejarah yang bermanfaat, karena pahalanya akan berlanjut melampaui masa hidup seorang hamba..
masih ada ga filmnya? biasalah.. gw pengen nonton juga
By: hasbinur on July 29, 2008
at 11:45 am
lho? film to?
wah anak2 di rumah pasti senang tuh om furqon …
By: dei on August 21, 2008
at 2:35 am